Langsung ke konten utama

Cerpen Cinta "Responsibility"

Aku terbangun pagi-pagi sekali ketika hujan turun begitu derasnya disertai petir. Angin menusuk kulitku sehingga aku harus merapatkan selimutku dan memeluk erat-erat bantal gulingku. Bulu-bulu di tangan dan kakiku berdiri sesekali ketika angin melewati mereka. Ini hari libur. Jadi aku dapat istirahat semauku, memanfaatkan hari ini sebaik-baiknya.
Aku baru akan kembali terlelap ketika ponsel ku bergetar. Dengan malas kuraih ponsel itu
'Siapa tahu penting.' pikirku.
"Kau sudah bangun?"
Begitulah isi pesan yang kuterima.
"Sudah." balasku.
Sepersekian detik setelah itu, ia --orang yang mengirimiku pesan-- meneleponku dengan video call. Kuangkat dan kulihat dengan jelas wajah pria yang sangat kurindukan. Kami berdua sama-sama sibuk sehingga jarang berkomunikasi, apalagi dia mendapat tugas ke luar kota.
"Selamat pagi." ucapnya tersenyum.
"Selamat pagi." ujarku tersenyum.
"Maaf aku jarang menghubungi mu."
"Maaf aku jarang membalas pesan mu dan jarang mengangkat telepon mu. Tidak apa-apa. Aku tahu kau sibuk. Aku mengerti."
"Ya, tidak apa-apa. Aku juga tahu kau sibuk." kami terdiam beberapa saat sampai ia berkata, "seminggu lagi tugas ku disini selesai dan aku akan pulang, mememuimu dan langsung melamarmu."
Deg!
"Tidak usah terburu-buru."
"Hey, kita sudah lama membicarakannya dan kau bilang kau siap kapanpun aku siap. Aku sudah siap sekarang. Kurasa uang yang kukumpulkan dengan bekerja beberapa tahun ini sudah cukup untuk kita berdua. Untuk pernikahan kita." ia tertawa kecil.
Aku tersenyum, "ya kau benar. Aku memang mengatakan bahwa aku akan siap jika kau siap. Baiklah jika kau sudah siap. Aku pikir uang yang telah kukumpulkan dengan bekerja juga sudah cukup untuk kita berdua. Setidaknya aku sudah memiliki perkerjaan tetap. Lagipula setelah proyek ini selesai, aku akan dipromosi oleh atasanku."
"Wow, itu hebat. Selamat ya. Aku turut senang. Wah, kalau begitu aku harus lebih giat bekerja lagi karena kelihatannya ada wanita yang akan mengalahkanku." kami tertawa.
"Ah, tidak juga. Sudahlah jangan pikirkan masalah pekerjaan. Tadi kau bilang ingin melamarku. Jadi fokuskan saja pikiranmu ke situ."
"Bukan hanya aku. Kau juga harus memfokuskan pikiran mu kesitu."
"Terimakasih." aku tersenyum haru.
"Jika boleh bertanya, untuk apa?"
"Kau sudah memenuhi tanggung jawabmu. Aku pikir kau akan lari dan akan membuatku stres hingga masuk ke rumah sakit jiwa. Dear me! Kuharap itu tidak terjadi."
"Kan sudah kubilang jangan bahas masalah itu lagi. Sebagai lelaki sejati itu sudah tanggung jawabku. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab, bukan? Jadi kumohon percayalah padaku. Aku mencintaimu segenap hatiku. Tidak akan kulukai sehelai rambutmu apalagi hatimu."
"Hey hey, jangan marah-marah dulu. Aku juga mencintaimu. Kau tidak akan melukai ku walau sehelai rambut, hmm kuharap begitu."
"Perkataan mu 'hmm kuharap begitu' itu saja sudah menunjukkan kalau kau ragu. Oh sayang, bisakah kau mempercayaiku sepenuh hatimu?"
"Ya, aku bisa. Aku tidak ragu. Aku percaya padamu sepenuh hatiku. Sudah dulu ya. Hujan semakin deras disini, petir-petir saling menyambar. Tidak baik jika menelepon di cuaca seperti ini."
"Oke. Baik-baik disana, ya. Tunggu aku. Bye. I love you."
"Bye. I love you too."
Telepon terputus.
Wajahnya berantakan. Dia belum mencukur. Matanya berkantung seperti kurang tidur. Ya Tuhan, lindungi dia.
Aku senang ia memenuhi tanggung jawabnya. Ya akan kuceritakan sedikit saja. Waktu itu semasa SMA, ia merenggut kesucian ku. Saat itu kami dimabuk asmara sehingga tidak memikirkan apa yang akan terjadi setelah itu. Setelah tamat SMA, aku selalu dihantui rasa takut, rasa penyesalan yang teramat. Aku takut jika ia --kekasihku-- akan pergi meninggalkan ku dengan semua janji-janjinya. Aku takut jika ia meninggalkan ku aku akan stres, depresi sehingga masuk rumah sakit jiwa. Aku menyesal telah melakukan itu semua. Tapi rasa takut dan penyesalan itu menghilang ketika ia bilang ia akan melamarku. Setidaknya rasa khawatirku berkurang.
Satu bulan kemudian undangan pernikahan ku dengan Alex --kekasihku-- disebar.
"Anna, kau baik-baik saja?" tanya Alex ketika aku memperhatikan orang-orang bekerja mempersiapkan pesta pernikahanku dengan Alex.
"Baik. Ada apa bertanya seperti itu?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya gugup. Satu hari lagi, Ann. Dan aku tidak pernah segugup ini seumur hidupku."
Aku tertawa, "kalau boleh jujur. Aku juga gugup."
"Oh God. Bagaimana bisa kau gugup sedangkan kau kelihatan tenang seperti ini. Wanita memang pandai menyembunyikan perasannya."
"Kau akan lebih gugup ketika kau menemani istrimu melahirkan." ujar seorang lelaki separuh baya --ayahku--
"Begini saja aku sudah gugup apalagi menemani istriku, maksudku calon istriku saat ia melahirkan."
Aku, Alex dan Ayah sama-sama tertawa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Praktikum Proses Fermentasi pada Pembuatan Tape

FERMENTASI PADA PEMBUATAN TAPE Dikerjakan oleh: Nama:       Sania Nur Mulia Fadia Utami Fadhila Ramadhani Thiraya Zeininna Deri Firmansyah Salwa Sayyidina Tassya Yulanda Kelas:        XII-IA3 T.A. 2017/2018 SMA NEGERI 3 BINJAI BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan keberagaman dan keunikan kulinernya. Baik keunikan dalam rasanya, cara pembuatannya dan jenis makanannya. Salah satu kuliner khas Indonesia yang sangat unik adalah tapai atau tape. Tapai  atau  tape  adalah kudapan yang sangat lezat untuk dikonsumsi. Namun ternyata, tape adalah kudapan yang berasal dari proses fermentasi. Untuk mengetahui lebih jelas apa itu proses fermentasi dan mengetahui lebih jelas bagaimana proses pembuatan tape, perlu diadakan praktikum agar tape tidak hilang ditelan waktu. B.    Tujuan Praktikum Ø   Mende...

First Write After 5 Years

 Hi guys, how are you? I don't know what to say, but i feel like, i have to starting to write again publicly after several years being silent. I'm not that kind of silent, don't worry, i still have my freedom of speech and i am in condition where i capable to speak on behalf of myself. First things first, i just wanted to say to my previous version of myself, to my younger self, that right now in 2025, finally you'll be able to be what you want to be. Maybe this time is not good enough for me, i still looking for any opportunity to become a better person, more success, more money, more skill, more knowledge, and many more. But you have to know that maybe half of your prayer, is me right now. At least i have a nice job, nice salary, bad & good co-worker, nice place to live, family, boyfriend that i love so much. To my younger self, do you know that right now we finally have a boyfriend for almost 5 years together and of course we planning to take a more serious step?...

Grab dan Gojek di Binjai, Sumatera Utara

Rabu, 10 Mei 2017 Aku kesekolah seperti biasa. Tapi bedanya, sampe disekolah aku pergi lagi. Karna mau lomba Pentas PAI. Jam 7:15 kami (aku sama 4 siswa lainnya) keluar sekolah. Kami pesan Grab untuk ke SMKN 1 Binjai, karena pembukaan acara ada disana. Aku dapat driver Bpk. Jhon Tular. Kami nunggu. Tiba tiba ada nomor tdk dikenal nelpon ke aku. Keknya sih driver grab. Ternyata dia nanya SMAN 3 itu dimana. Ya aku tunjukin jalannya sih. Soalnya dia baru di Binjai. Fyi, yg aku suruh angkat telponnya si Echa. 6 menit kemudian, dtg lah mobil dengan plat nomor yg sama dengan yg kupesan. Langsung aja kami masuk. Aku sama Echa duduk di jok paling belakang. Driver nya sangat ramah. Dari smantig ke smkn 1 biayanya 10rb. Tp karena promo, potong 10rb. Jadinya gratis yeeayy. Bukannya mau bandingin nih. Tp kalo naik becak udh kena berapa biayanya? Apalagi kami berlima mana bisa 1 becak. Kalo naik angkot, bayar 2rb per org. Naik grab, gratis. Wahaha. Naik mobil lagi hehe. Jadi grab udah a...